Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Tanggap Darurat Corona Virus Kabupaten Klaten

Kampung budaya Plaosan


Menindaklanjuti situasi tanggap darurat wabah Virus Corona baik secara nasional maupun lingkup provinsi jawa tengah, berikut adalah beberapa kebijakan dan himbauan (bisa di download) terkait  situasi tanggap darurat Virus Corona di Kabupaten Klaten.
untuk dijadikan pedoman dan bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Bugisan Juara 1 Lomba Festival Desa Wisata dan Juara 2 Pokdarwis

Kampung budaya Plaosan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, Jawa Tengah menggelar festival desa wisata dan lomba kelompok sadar wisata (pokdarwis) di objek wisata Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, 7-8 Maret 2020.
Kegiatan festival desa wisata tahun ini diikuti oleh 17 desa dan lomba pokdarwis diikuti oleh 13 desa. Dalam kegiatan ini peserta menampilkan berbagai produk dan karya inovasi unggulan yang dikembangkan termasuk potensi seni budayanya.


"Festival desa wisata dan lomba pokdarwis ini sebagai ajang pamer dan promosi produk-produk unggulan dan inovasi desa wisata. Jadi, melalui kegiatan festival dan lomba tersebut diharapkan produk-produk dan inovasi karya desa wisata dan pokdarwis dikenal masyarakat," kata Plt Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahrga Klaten, Sri Nugroho.
Acara yang digelar oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga adalah program kegiatan Pemkab Klaten guna mendorong dan mengembangkan sektor pariwisata di Klaten.
Festival desa wisata dan lomba pokdarwis dinilai dewan juri yang terdiri dari Dinas Pariwisata Provinsi Jateng, Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Klaten, Bappeda, Dewan Kesenian, dan pegiat desa wisata.
Adapun juara I festival desa wisata, yaitu Desa Bugisan, juara II Desa Jarum, juara III Desa Kebondalem Kidul, juara harapan I Desa Ngerangan, juara harapan II Desa Panggang, dan juara harapan III Desa Sidowayah.
Sedangkan lomba pokdarwis, juara I Dewi Pajang, Desa Melikan; juara II Candi Kembar, Desa Bugisan; juara III Hidrofarm, Desa Panggang; juara harapan I Pendopo, Desa Jarum; juara harapan II Gendewa, Desa Kebondalem Kidul; dan juara harapan III Sumunar, Desa Ngerangan.
Para juara festival desa wisata dan lomba pokdarwis mendapat penghargaan berupa piala dan uang pembinaan. Hadiah diserahkan oleh Bupati Sri Mulyani, Minggu (8/3), di panggung terbuka objek wisata Bukit Sidoguro. (OL-14). (Media Indonesia)

Candi Plaosan Juara II Terpopuler API Award

Kampung budaya Plaosan
Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten terpilih sebagai juara II kategori situs sejarah terpopuler pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2019. Candi Plaosan menempati urutan kedua setelah Istana Raja Sisingamangaraja di Kabupaten Humbang Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara.

Penghargaan diserahkan pada ajang malam penganugerahaan API Award 2019 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkraf), Jakarta, Jumat (22/11/2019). Penghargaan juara II situs sejarah terpopuler diserahkan Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenparkraf, Guntur Sakti kepada Bupati Klaten, Sri Mulyani, didampingi Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Wahyu Prasetyo.
Bupati Klaten, Sri Mulyani, mengatakan dengan penghargaan tersebut Candi Plaosan diharapkan kian populer dan berdampak pada bertambahnya wisatawan yang berdatangan ke candi tersebut.
“Prestasi ini kami harapkan bisa membawa virus kebaikan untuk objek wisata di Kabupaten Bersinar semakin berbenah dan bersolek,” jelas Mulyani saat dihubungi solopos.com, Minggu (24/11/2019).
Mulyani mengatakan dengan semakin populernya objek wisata di Klaten bisa berdampak pada bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD).
“Hal penting lainnya yakni dengan objek wisata yang terdongkrak bisa menambah kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” urai dia.
Plt. Kepala Disparbudpora Klaten, Wahyu Prasetyo, mengatakan ada tahapan yang dilalui hingga Candi Plaosan terpilih sebagai juara II kategori situs sejarah terpopuler API Award 2019.
Tahapan itu mulai dari pendaftaran, seleksi nominasi, pembukaan vote, promosi, serta kampanye pariwisata. “Ada juga tahapan roadshow dan sosialisasi,” kata Wahyu.
Kabid Pariwisata Disparbudpora Klaten, Etty Pusparini, mengatakan promosi untuk mempopulerkan Candi Plaosan terus dilakukan. Selain promosi, kerja sama dengan pemerintah desa terus dibangun untuk membikin para wisatawan betah berlama-lama di kawasan Candi Plaosan dan sekitarnya.
“Terutama di Desa Bugisan yang menjadi lokasi candi ini. Kami akan mendorong desa untuk mengambil kesempatan ini dengan mendirikan homestay,” kata Rini.
Rini menjelaskan belakangan Candi Plaosan menjadi salah satu destinasi wisata utama di Klaten. Apalagi sejak ada paket wisata Candi Prambanan-Candi Plaosan-Candi Sojiwan sejak setahun lalu.
Kepala Desa Bugisan, Heru Nugroho, menegaskan selama ini warga dan pemdes sudah melakukan sejumlah upaya untuk menangkap potensi wisatawan berdatangan ke Candi Plaosan.
Salah satunya dengan menggelar sejumlah pertunjukan di lapangan milik desa yang bersebelahan dengan Candi Plaosan. “Di desa kami juga sudah ada 15 homestay,” kata Heru.
Pada Minggu, pemkab melalui tiga OPD yakni Disdagkop dan UKM, Diskominfo, dan Bappeda menggelar kegiatan bertajuk touring wisata scooter Klaten. Kegiatan yang diikuti ratusan pecinta vespa itu digelar di taman milik desa yang berada pada sisi timur Candi Plaosan. Para peserta mengikuti kegiatan touring mengelilingi kawasan Candi Plaosan hingga wilayah kota Klaten.

Sumber: Solopos.com

Ratusan Scooterist Ngumpul di Candi Plaosan

Kampung budaya Plaosan
Sekitar 500-an penghobi sepeda motor Vespa atau scooterist se-Kabupaten Klaten, Minggu (24/11/2019) tumplek blek di lapangan wisata Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Para scooterist dari 26 kecamatan itu hadir untuk mengikuti sederet acara touring komunitas scooter bersama Bupati Klaten 2019.

"Saya datang bersama istri dan anak. Sekalian liburan lihat Candi Plaosan," kata Nanang, scooterist dari Klaten Selatan, Minggu (24/11/2019) siang kepada detikcom.

Nanang datang dengan Vespa Sprint buatan tahun 1980 bersama istri dan balitanya. Bercelana pendek dengan jaket kulit rumbai ala scooterista.

Seperti juga Nanang, Bambang Sigit Sinugroho scooterist asal Kecamatan Cawas mengaku senang di Klaten ada acara komunitas. Bambang yang juga Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Pemkab Klaten itu membawa Vespa buatan tahun 2016.

"Yang saya bawa yang baru. Tapi di rumah saya punya PX tahun 1981 yang saya buat gandengan di sampingnya," katanya.

Fotografer memotret foto model saat lomba foto touring wisata scooter Klaten di lapangan timur Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Minggu (24/11/2019). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)


Bambang Sigit mengatakan Vespa di rumahnya jarang dipakai acara komunitas. Sebab sepeda motor itu banyak kenangan baginya saat kuliah di UNS dan hasil hadiah orang tuanya.

Vespa photo competition jadi ajang paling ramai. Saat tiga foto model mulai duduk menjadikan jok Vespa sebagai panggung catwalk, seratusan peserta lomba membidikkan kamera.

Tak sekadar ngumpul, para scooterist dari berbagai usia dan kalangan itu menggelar sederet kegiatan. Mulai dari Vespa photo competition, angkringan gratis, donor darah sampai penyerahan bantuan air bersih ke daerah kekeringan.


Kegiatan yang digeber dengan background kemegahan Candi Plaosan itu bertambah meriah dengan panggung musik dan door prize. Bupati Klaten, Sri Mulyani dan sejumlah pejabat dan Muspida menyempatkan hadir.



Ketua Panitia, Purwanto Anggono Cipto mengatakan peserta kegiatan berasal dari wilayah Kabupaten Klaten dan kabupaten sekitar. Tidak hanya warga biasa tetapi kalangan pejabat dan pengusaha.


"Mayoritas dari Klaten tetapi daerah lain datang sebagai penggembira. Kami targetkan 1.000 scooterist datang," ungkap Purwanto.

Dikatakannya, touring itu sebagai ajang silaturahmi. Jangka panjangnya para scooterist diharapkan bisa berkolaborasi untuk mempromosikan wisata Kabupaten Klaten.

Sebab komunitas scooter memiliki kekhasan tersendiri. Terkesan klasik sebab ada Vespa buatan tahun 1960-an sampai 2000-an ikut serta.

Tidak sekadar bertemu, kegiatan juga dimanfaatkan untuk membentuk pengurus. Pengurus itu yang akan mewadahi ke depannya.

Sumber: https://oto.detik.com/komunitas-motor/d-4796851/meriah-ratusan-scooterist-ngumpul-di-candi-plaosan/2

https://www.solopos.com/juara-ii-terpopuler-api-award-ini-pengaruhnya-untuk-wisata-candi-plaosan-klaten-1032908

Pokdarwis Desa Bugisan Juara Lomba Pokdarwis Tingkat Kabupaten Klaten

Kampung budaya Plaosan

POKDARWIS Desa Bugisan Juara POKDARWIS  Se Kabupaten Klaten

Klaten - Pokdarwis  (Kelompok Sadar Lingkungan Wisata) Desa Bugisan sukses menjadi juara I POKDARWIS tingkat kabupaten Klaten yang diadakan oleh DISPARBUDPORA KLATEN Sabtu, 02 November 2019 di Objek Wisata Mata Air Cokro Klaten.

Para Pemenang Lomba Pokdarwis 2019


Kegiatan ini merupakan lomba yang diadakan pertama kali dengan sistem penilaian berbeda dari biasanya, dengan 6 penilaian khusus yang meliputi
1. Tes Tertulis mengenai Ke Pariwisataan
2. Kelengkapan Administrasi Kelembagaan POKDARWIS
3. Studi Kasus Sapta Pesona 
4. Aksi Sapta Pesona
5. Paparan Sapta Pesona
6. Yel-Yel

Tes Wawancara

Yel-Yel

Penilaian cukup sengit dengan selisih nilai yang terbilang sangat tipis dengan 12 peserta yang bersaing. Namun Pokdarwis Candi Kembar (Desa Bugisan) yang beranggotakan Bapak Seti Aswadi (Ketua POKDARWIS Bugisan), Rudi Riono, Irvan S, Rini Karyaningsih dan Bapak Sarno Widodo Sukses menjadi yang terbaik setelah memperoleh nilai tertinggi dari 6 kategori yang dilombakan, disusul Pokdarwis Gendewa (Kebondalem Kidul) dan Pokdarwis Hidrofarm (Desa Panggang).

“ Lomba Ini bukan sekedar untuk bersaing, namun untuk meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya SAPTA PESONA dan kedepan desa-desa yang lain turut semangat mengkampanyekan aksi ini, semua disini adalah Juara, sudah berani tampil dari ratusan Desa di Kabupaten Klaten ” ungkap Kepala Disparbudpora Klaten Ibu Rini Sri Mulyani kepada para peserta lomba.



Lomba pun ditutup dengan foto bersama yang menandakan bahwa Pokdarwis kabupaten Klaten bukanlah bersaing namun saling bersinergi satu sama lain.

Tambahan para juara lomba akan mendapat kesempatan mengikuti lomba pokdarwis tingkat provinsi tahun 2020. Dan untuk juara 1 mendapat kesempatan study komparasi di banyuwangi 21 November mendatang.



Bank Sampah Bugisan Sabet Juara 2 Dalam Ajang Pameran Produk Bank Sampah Se Kabupaten Klaten

Kampung budaya Plaosan
Klaten - Bank Sampah Desa Bugisan sukses menjadi juara 2 dalam ajang pameran produk bank sampah 2019 yang diselenggarakan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tanggal 15-17 Oktober 2019 di Hutan Kota Gergunung Klaten Utara.




Bugisan menjadi Juara 2 dari 32 Peserta yang mengikuti ajang tersebut.



Caya Kartika Putri Warga Bugisan Sukses Juara di Mas dan Mbak Klaten 2019

Kampung budaya Plaosan
Muhammad Akbar Arifandi, siswa SMAN 1 Klaten dan Caya Kartika Putri, siswi SMAN 1 Jogonalan berhasil terpilih sebagai Mas dan Mbak Klaten 2019 pada malam Grand Final Pemilihan Duta Wisata Kabupaten Klaten yang digelar di alun-alun Klaten, Sabtu (13/7) malam.

Acara puncak pemilihan duta wisata itu dihadiri Bupati Sri Mulyani, Forkompimda, para pejabat pemkab Klaten dan tamu undangan. Keduanya berhak mendapatkan hadiah uang pembinaan dari panitia dan berhak mewakili Klaten maju ke pemilihan Duta Wisata tingkat Jawa Tengah.
‘’Saya harap, Mbak dan Mas Klaten bisa mempromosikan potensi wisata yang ada di Klaten, agar ke depan pariwisata di Kabupaten Klaten semakin berkembang dan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,’’ tegas Bupati.
Dia berharap pada duta wisata lebih mendalami potensi wisata yang bisa dipromosikan kepada masyarakat luas. Tak hanya itu, Klaten juga mempunyai banyak potensi berupa produk unggulan daerah yang potensial.
Menurut Kabid Kepariwisataan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga, Ety Pusparini, sebelum malam grand final sudah digelar seleksi dalam pemilihan Mas dan Mbak Klaten 2019, mulai dari tes pengetahuan umum, pengetahuan kepariwisataan dan materi lainnya.
Dalam acara tersebut, runner up atau Wakil 1 Mas Klaten jatuh ke tangan Nandika Bagus Fahmi Wirawan, sedangkan runner up Mbak Klaten diraih Agatha Diwanti Puteri Ekaristi. Wakil 2 Mas Klaten direbut Muchammad Fuad Chakam dan Wakil 2 Mbak Klaten diraih Monica Amy Nabella.
Ada pun Juara Harapan 1 diraih Rihan Ahzamy Syahnata dan Wahyu Dwi Utami, dan Juara Harapan II direbut Agus Setiaji dan Dewi Maharani Koisin. Terpilih sebagai Mas dan MBak Intelegensi yakni Aloisius Fidelis Bima Sanjaya dan Milennesia Imani Kristi.Predikat Mas dan MBak Berbakat jatuh ke tangan Dicky Wahyudi dan Kesumarienatsya Eljo Permata Ayu. Sedangkan Juara Favorit direbut Nandika Bagus Fahmi Wirawan dan Milennesia Imani Kristi.(Merawati Sunantri) https://suaramerdekasolo.com

Tari Perdana Bercerita Tentang Candi Plaosan Ramaikan Festival Candi Kembar 2018

Kampung budaya Plaosan
Gelaran Festival Candi Kembar di kompleks Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan sukses menyedot wisatawan. Selama tiga hari penuh sejak 31 Agustus hingga 2 September yang diikuti lebih dari 260 orang seniman baik dari Klaten serta luar kota seperti Jakarta, Jogja hingga Kalimantan.

Festival yang digelar untuk ketiga kalinya itu terasa berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Yakni hadirnya Tari Kolosal yang bercerita tentang kisah cinta beda keyakinan Pramudiya Wardani (Budha) dan Rakai Pikatan (Hindu) yang dipentaskan oleh grup Solah Gotro yang berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Terciptanya tarian tersebut juga merupakan permintaan dari Pemerintah Desa Bugisan sendiri untuk memberi pengetahuan pada wisatawan bahwa Candi Plaosan atau disebut juga candi Kembar mempunyai kisah yang tidak kalah menarik dengan Candi Prambanan dengan Tari Ramayananya.           

                                                                                                                                                                                                                                                                                    

"Kami memang meminta mereka untuk menciptakan tarian yang menceritakan candi bercorak Hindu Budha ini. Tarian yang mampu menceritakan awal terbentuknya candi dengan segala kehidupan di dalamnya terdapat berbagai musik gamelan," jelas Kepala Desa Bugisan Heru Nugroho, Minggu (2/9).

Munculnya gagasan untuk menciptakan dan menampilkan dalam festival guna mendukung paket wisata di Desa Bugisan yang selama ini sudah berjalan. Jika selama ini tarian Ramayana identik dengan Candi Prambanan maka di Candi Plaosan pun akan diadakan. Hal ini untuk menarik wisatawan baik domestik dan asing ke Plaosan.

"Kedepannya kami ingin melakukan kerjasama dengan ISI Surakarta dalam mengembangkan tarian ini ke warga kami. Mereka akan menjadi mentor untuk mengajarkan Tarian Kolosal Candi Plasosan ini. Harapannya warga Bugisan mampu menyerap tarian yang diajarkan guna menunjang di sektor pariwisata," jelasnya.

Ia mengatakan, jika selama ini kelompok kesenian di Desa Bugisan untuk menghibur wisatawan asing mulai dari gejug lesung hingga gamelan. Tetapi hadirnya Tarian Kolosal Candi Plaosan bisa menjadi identitas kesenian yang khas setiap kali datang ke desanya. Tidak sekedar melihat kemegahan Candi Plaosan saja tetapi juga bisa dijamu dengan tarian tradisional tersebut.

"Kami ingin setelah mereka selesai jalan-jalan di Candi Plaosan bisa langsung melihat tarian Kolosal Candi Plaosan ini. Nantinya bisa dijadikan dalam satu paket dengan tiket masuk ke candi. Mungkin durasi tarinya sekitar setengah jam tetapi sudah mampu menceritakan alur cerita tentang Candi Plaosan," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mendukung penuh atas segala pengembangan kepariwisataan khususnya di Desa Bugisan. Melalui keberadaan potensi Candi Plaosan tersebut harus mampu dimanfaatkan secara maksimal.

"Saya kira candi dengan bentuk kembar seperti ini hanya ada di Candi Plaosan saja. Keunikan ini sudah seharusnya kita kelola sehingga tidak kalah dengan Candi Prambanan. Termasuk diadakannya Festival Candi Kembar ini saya apresiasi," jelas Mulyani.

Ia meminta dalam pengembangan kepariwisataan di Desa Bugisan terus dikawal dan didampingi oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Seperti Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten serta Pemerintah Kecamatan Prambanan. Hal ini perlu dilakukan agar pengembangan desa wisata yang memanfaatkan potensi candi lebih terarah sehingga memilik dampak pada perekonomian masyarakat sekitarnya.

Perlu diketahui Tari Kolosal Candi Plaosan sendiri bercerita tentang asal mula pertemuaan Pramudiya wardani dan Rakai Pikatan. Rasa toleransi dan cintanya Rakai Pikatan untuk Pramudiya Wardani ditorehkan dalam sebuah Candi bernama Candi Plaosan, yang dimainkan oleh 90 penari lebih dengan durasi sekitar 3 jam.

Lampion Candi Plaosan yang Instagramable

Kampung budaya Plaosan
Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan setiap harinya mampu menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Ini dimanfaatkan pemerintah desa setempat dengan membangun desa wisata. Berupa kawasan Paseban Candi Kembar yang terletak tepat di sisi barat candi.
Objek wisata yang dikelola komunitas pemuda Desa Bugisan, Mandapa itu menawarkan sejumlah spot berswafoto. Sebagai pemikat, kawasan ini dihias deretan lampion. Dipasang di sepanjang jalan desa serta dengan latar belakang pemandangan eksotis candi.

”Pengembangan Paseban Candi Kembar ini merupakan bantuan Pemkab Klaten kepada desa kami. Sebesar Rp 200 juta sebagai wujud program desa wisata. Juga ada pendampingan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dan bantuan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta,” jelas pengelola Paseban Candi Kembar, Nur Widiyono kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (13/4).
Paseban Candi Kembar memanfaatkan tanah kas desa seluas 3.000 meter persegi. Kawasan ini juga dilengkapi sejumlah gazebo untuk beristirahat wisatawan. Tak ketinggalan deretan warung makan yang memanjakan lidah.
Nurdin (sapaan Nur Widiyono) mengaku meski baru beberapa bulan berjalan, namun objek wisata ini mampu menarik minat wisatawan. Sebagai pelepas lelah setelah menikmati Candi Plaosan.
”Paling diminati ya bola-bola lampion warna-warni. Paling ramai menjelang sore hari. Bisa mencapai 500 pengunjung di akhir pekan. Ada juga wisatawan dari Eropa dan Singapura yang berkunjung,” klaim Nurdin.
Sementara ini, wisatawan yang ingin ke Paseban Candi Kembar belum ditarik biaya. Sembari menunggu peraturan desa (Perdes) yang mengatur retribusi. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 3.000 untuk biaya parkir.
Pemasukan dari parkir saja, per bulan bisa mencapai Rp 10 juta. Diharapkan dengan rencana penarikan retribusi tiket masuk sebesar Rp 5.000, bisa mendongkrak pendapatan.
”Kami juga sering menyediakan hiburan kesenian karawitan dan jegug lesung bagi wisatawan yang memintanya. Mengingat potensi kesenian di desa kami cukup besar. Didukung acara Festival Candi Kembar yang diselenggarakan setiap tahunnya,” tandas Nurdin.
Nurul Fitri Astuti, 22, pengunjung asal Kalasan, Jogja mengaku baru pertama kali singgah ke Paseban Candi Kembar. Ia cukup terkesan karena objek ini memadukan spot swafoto dengan tempat bersantai, serta pemandangan Candi Plaosan.
”Mungkin perlu ditambahkan lagi gazebonya. Jujur saya cukup menikmati. Apalagi kuliner yang disediakan harganya terjangkau,” bebernya.

Kantor Balai Desa Bugisan Buka Mulai 08.00 WIB Sampai 14.30 WIB