Paket Wisata 1D1N

Kampung budaya Plaosan

Paket Wisata 1D1N

Paket Wisata Sepeda

Paket Wisata Dokar

Paket Wisata Gerobak Sapi

Destinasi Wisata:

Destinasi Wisata:

Destinasi Wisata:

Candi Plaosan

Candi Plaosan

Candi Plaosan

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Karawitan

Kesenian Karawitan

Kesenian Karawitan

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

Wedangan  Daleme Simbah

Wedangan Daleme Simbah

Wedangan Daleme Simbah

Homestay

Homestay

Home Stay

Fasilitas: Local Tour Guide

Makan Malam

Fasilitas: Local Tour Guide

     Makan Malam

Fasilitas: Local Tour Guide

Makan malam

 

 

 

(Min 2 Orang; @295K)

(Min 4 Orang; @340K)

(Min 4 Orang; @340K)

 


klik icon WA


Paket Wisata 2D1N

Kampung budaya Plaosan

Paket Wisata 2D1N

Paket Wisata Sepeda

Paket Wisata Dokar

Paket Wisata Gerobak Sapi

Destinasi Wisata:

Destinasi Wisata:

Destinasi Wisata:

Candi Plaosan

Candi Plaosan

Candi Plaosan

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Gejlog Lesung

Kesenian Karawitan

Kesenian Karawitan

Kesenian Karawitan

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

Proses Pembuatan Batik Ecoprint

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

Proses Pembuatan Batik Ecoprint

UMKM : Proses Pembuatan Jamu Tradisional

Proses Pembuatan (Ampyang;Emping)

Proses Pembuatan Batik Ecoprint

Wedangan  Daleme Simbah

Wedangan Daleme Simbah

Wedangan Daleme Simbah

Homestay

Homestay

HomeStay

Sunrise Candi Plaosan

Sunrise Candi Plaosan

Sunrise Candi Plaosan

Fasilitas: Local Tour Guide

Makan Malam, Makan Siang

Fasilitas: Local Tour Guide

  Makan Malam, Makan Siang

Fasilitas: Local Tour Guide

Makan malam, Makan Siang

 

 

 

(Min 2 Orang; @445K)

(Min 4 Orang; @490K)

(Min 4 Orang; @490K)

 

Tari Perdana Bercerita Tentang Candi Plaosan Ramaikan Festival Candi Kembar 2018

Kampung budaya Plaosan
Gelaran Festival Candi Kembar di kompleks Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan sukses menyedot wisatawan. Selama tiga hari penuh sejak 31 Agustus hingga 2 September yang diikuti lebih dari 260 orang seniman baik dari Klaten serta luar kota seperti Jakarta, Jogja hingga Kalimantan.

Festival yang digelar untuk ketiga kalinya itu terasa berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya. Yakni hadirnya Tari Kolosal yang bercerita tentang kisah cinta beda keyakinan Pramudiya Wardani (Budha) dan Rakai Pikatan (Hindu) yang dipentaskan oleh grup Solah Gotro yang berasal dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Terciptanya tarian tersebut juga merupakan permintaan dari Pemerintah Desa Bugisan sendiri untuk memberi pengetahuan pada wisatawan bahwa Candi Plaosan atau disebut juga candi Kembar mempunyai kisah yang tidak kalah menarik dengan Candi Prambanan dengan Tari Ramayananya.           

                                                                                                                                                                                                                                                                                    

"Kami memang meminta mereka untuk menciptakan tarian yang menceritakan candi bercorak Hindu Budha ini. Tarian yang mampu menceritakan awal terbentuknya candi dengan segala kehidupan di dalamnya terdapat berbagai musik gamelan," jelas Kepala Desa Bugisan Heru Nugroho, Minggu (2/9).

Munculnya gagasan untuk menciptakan dan menampilkan dalam festival guna mendukung paket wisata di Desa Bugisan yang selama ini sudah berjalan. Jika selama ini tarian Ramayana identik dengan Candi Prambanan maka di Candi Plaosan pun akan diadakan. Hal ini untuk menarik wisatawan baik domestik dan asing ke Plaosan.

"Kedepannya kami ingin melakukan kerjasama dengan ISI Surakarta dalam mengembangkan tarian ini ke warga kami. Mereka akan menjadi mentor untuk mengajarkan Tarian Kolosal Candi Plasosan ini. Harapannya warga Bugisan mampu menyerap tarian yang diajarkan guna menunjang di sektor pariwisata," jelasnya.

Ia mengatakan, jika selama ini kelompok kesenian di Desa Bugisan untuk menghibur wisatawan asing mulai dari gejug lesung hingga gamelan. Tetapi hadirnya Tarian Kolosal Candi Plaosan bisa menjadi identitas kesenian yang khas setiap kali datang ke desanya. Tidak sekedar melihat kemegahan Candi Plaosan saja tetapi juga bisa dijamu dengan tarian tradisional tersebut.

"Kami ingin setelah mereka selesai jalan-jalan di Candi Plaosan bisa langsung melihat tarian Kolosal Candi Plaosan ini. Nantinya bisa dijadikan dalam satu paket dengan tiket masuk ke candi. Mungkin durasi tarinya sekitar setengah jam tetapi sudah mampu menceritakan alur cerita tentang Candi Plaosan," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Klaten Sri Mulyani mendukung penuh atas segala pengembangan kepariwisataan khususnya di Desa Bugisan. Melalui keberadaan potensi Candi Plaosan tersebut harus mampu dimanfaatkan secara maksimal.

"Saya kira candi dengan bentuk kembar seperti ini hanya ada di Candi Plaosan saja. Keunikan ini sudah seharusnya kita kelola sehingga tidak kalah dengan Candi Prambanan. Termasuk diadakannya Festival Candi Kembar ini saya apresiasi," jelas Mulyani.

Ia meminta dalam pengembangan kepariwisataan di Desa Bugisan terus dikawal dan didampingi oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Seperti Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten serta Pemerintah Kecamatan Prambanan. Hal ini perlu dilakukan agar pengembangan desa wisata yang memanfaatkan potensi candi lebih terarah sehingga memilik dampak pada perekonomian masyarakat sekitarnya.

Perlu diketahui Tari Kolosal Candi Plaosan sendiri bercerita tentang asal mula pertemuaan Pramudiya wardani dan Rakai Pikatan. Rasa toleransi dan cintanya Rakai Pikatan untuk Pramudiya Wardani ditorehkan dalam sebuah Candi bernama Candi Plaosan, yang dimainkan oleh 90 penari lebih dengan durasi sekitar 3 jam.

Lampion Candi Plaosan yang Instagramable

Kampung budaya Plaosan
Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan setiap harinya mampu menyedot perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Ini dimanfaatkan pemerintah desa setempat dengan membangun desa wisata. Berupa kawasan Paseban Candi Kembar yang terletak tepat di sisi barat candi.
Objek wisata yang dikelola komunitas pemuda Desa Bugisan, Mandapa itu menawarkan sejumlah spot berswafoto. Sebagai pemikat, kawasan ini dihias deretan lampion. Dipasang di sepanjang jalan desa serta dengan latar belakang pemandangan eksotis candi.

”Pengembangan Paseban Candi Kembar ini merupakan bantuan Pemkab Klaten kepada desa kami. Sebesar Rp 200 juta sebagai wujud program desa wisata. Juga ada pendampingan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dan bantuan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta,” jelas pengelola Paseban Candi Kembar, Nur Widiyono kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (13/4).
Paseban Candi Kembar memanfaatkan tanah kas desa seluas 3.000 meter persegi. Kawasan ini juga dilengkapi sejumlah gazebo untuk beristirahat wisatawan. Tak ketinggalan deretan warung makan yang memanjakan lidah.
Nurdin (sapaan Nur Widiyono) mengaku meski baru beberapa bulan berjalan, namun objek wisata ini mampu menarik minat wisatawan. Sebagai pelepas lelah setelah menikmati Candi Plaosan.
”Paling diminati ya bola-bola lampion warna-warni. Paling ramai menjelang sore hari. Bisa mencapai 500 pengunjung di akhir pekan. Ada juga wisatawan dari Eropa dan Singapura yang berkunjung,” klaim Nurdin.
Sementara ini, wisatawan yang ingin ke Paseban Candi Kembar belum ditarik biaya. Sembari menunggu peraturan desa (Perdes) yang mengatur retribusi. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 3.000 untuk biaya parkir.
Pemasukan dari parkir saja, per bulan bisa mencapai Rp 10 juta. Diharapkan dengan rencana penarikan retribusi tiket masuk sebesar Rp 5.000, bisa mendongkrak pendapatan.
”Kami juga sering menyediakan hiburan kesenian karawitan dan jegug lesung bagi wisatawan yang memintanya. Mengingat potensi kesenian di desa kami cukup besar. Didukung acara Festival Candi Kembar yang diselenggarakan setiap tahunnya,” tandas Nurdin.
Nurul Fitri Astuti, 22, pengunjung asal Kalasan, Jogja mengaku baru pertama kali singgah ke Paseban Candi Kembar. Ia cukup terkesan karena objek ini memadukan spot swafoto dengan tempat bersantai, serta pemandangan Candi Plaosan.
”Mungkin perlu ditambahkan lagi gazebonya. Jujur saya cukup menikmati. Apalagi kuliner yang disediakan harganya terjangkau,” bebernya.

Serunya Berburu Sunset di Candi Plaosan

Kampung budaya Plaosan
Candi Plaosan bisa dinikmati secara gratis selama bulan Agustus ini. Para pecinta fotografi bisa bebas berburusunset di kawasan candi yang terletak kira-kira satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan itu.



"Tiket masuk gratis karena momentum peringatan 17 Agustus. Hari biasa bayar Rp 3.000,00," kata salah satu pegawai pengelola Candi Plaosan, Nurwidiyono, pada Rabu sore (9/8/2017).

 Petang itu, saat Kompas.com berkunjung ke Candi Plaosan, sejumlah pengunjung sudah menata kamera dan tripodnya di depan badan candi. Mereka tak mau melewatkan pemandangan matahari terbenam. Latar dua candi kembar plaosan dengan langit yang berganti warna memang mengundang decak kagum. Tak heran banyak pengunjung yang duduk-duduk dan turut berfoto dengan latar pemandangan tersebut. Hadirnya pendopo yang disebut Paseban Candi Kembar menjadi tempat bersantai menikmati pemandangan sambil makan atau minum. Nurwidiyono mengatakan pendopo tersebut dibangun di atas tanah kas desa untuk tujuan wisata. Paseban semakin ramai di malam hari, apalagi kalau akhir pekan.

"Paseban ini dibangun Maret lalu dan diresmikan April 2017. (Masih dikembangkan) nanti akan ada menu-menu makanannya," ujar Nurwidiyono. Candi Plaosan menjadi destinasi wisata penting di Klaten, Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pada Minggu (6/8/2017) lalu meresmikan Sekolah Sungai Angkatan IV dan Sekolah Gunung Angkatan I 2017, Gerakan Pengurangan Risiko Bencana di kawasan Candi Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan. November di Candi Plaosan Bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momentum sunset, Nurwidiyono menyarankan untuk datang kembali pada November mendatang.

Menurut dia, pemandangan matahari terbenam semakin bagus lagi saat itu. Sebab, posisi matahari akan tepat berada di antara dua candi. Nah, ada yang unik dari sejarah candi ini. Candi Plaosan merupakan candi perpaduan Hindhu dan Buddha. Pada masa Kerajaan Mataram, candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang beragama Hindhu untuk dipersembahkan kepada istrinya Pramodhawardhani yang beragama Buddha. Singkat kata, bangunan candi ini merupakan simbol cinta dua insan yang berbeda agama. (Sumber: KOMPAS.COM)

Festival Candi Kembar di Candi Plaosan berlangsung meriah

Kampung budaya Plaosan
Iring-iringan peserta kirab menyusuri jalan antara Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan hingga Candi Plaosan, Klaten, Sabtu (2/9/2017) siang. Mereka merupakan warga sembilan RW Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan.

Mengenakan beragam kostum, warga masing-masing RW membawa gunungan berisi aneka hasil bumi menuju lapangan sisi timur kawasan Candi Plaosan. Satu per satu gunungan yang dibawa ditata rapi di lapangan berlatar belakang dua candi utama Plaosan yang disebut candi kembar.
Seusai sambutan dari sejumlah pejabat, warga lantas berhamburan mendatangi gunungan guna memperebutkan berbagai hasil bumi meski doa belum rampung dibacakan. Kirab gunungan merupakan bagian acara pembukaan Festival Candi Kembar di Desa Bugisan.
Selain karnaval, para penari dari berbagai daerah tampil pada acara pembukaan tersebut. Festival Candi Kembar digelar untuk kali kedua.
Selama tiga hari yakni Jumat-Minggu (1-3/9/2017), festival itu menampilkan beragam kesenian seperti jathilan, tari, serta pentas musik di lapangan sisi timur kawasan Candi Plaosan. “Beberapa kegiatan diantaranya pada Jumat malam sudah digelar pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Pada Sabtu digelar karnaval, tari, gejok lesung, serta atraksi jatilan. Sementara pada Minggu salah satunya akan digelar festival gerobak sapi,” kata Kepala Desa Bugisan, Heru Nugroho, saat ditemui di sela pembukaan festival, Sabtu.
Festival itu bertujuan mengenalkan Candi Plaosan di Desa Bugisan. Heru menjelaskan belum banyak orang mengetahui pesona Candi Plaosan terutama keindahan candi-candi di tempat itu saat sore hari matahari mulai tenggelam.
“Pemandangannya sangat indah ketika pemandangan sore hari,” katanya.
Selain mengenalkan pesona Candi Plaosan, festival digelar untuk mengenalkan Bugisan sebagai desa wisata. Berbagai kesenian tradisional menjadi daya tarik desa setempat. “Di desa kami ada kelompok-kelompok kesenian seperti jatilan, karawitan, gejok lesung, srandul, serta pring sedapur. Karena di desa kami ada Candi Plaosan, kami kreasikan dengan kesenian di desa kami,” kata Heru.
Festival serupa yang digelar tahun lalu cukup memberi dampak ke perkembangan desa wisata Bugisan. Heru menuturkan rata-rata setiap bulan kelompok kesenian di Bugisan tampil menghibur wisatawan yang datang menikmati keindahan Candi Plaosan.
“Harapan kami seperti itu, semakin banyak wisatawan yang datang ke Candi Plaosan dan memberi dampak terutama ke ekonomi warga kami,” katanya.
Festival Candi Kembar yang digelar tahun ini menggunakan alokasi dana dari pemerintah desa senilai Rp30 juta. Selain itu, penyelenggaraan festival mendapat suntikan dana dari Pemkab Rp50 juta.
Plt. Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap festival itu bisa digelar rutin setiap tahun agar semakin dikenal hingga ke mancanegara. Festival itu disebut-sebut sebagai salah satu ikon Kabupaten Bersinar.
Mulyani menuturkan Bugisan merupakan salah satu dari 40 desa di Klaten yang mulai mengembangkan diri menjadi desa wisata. Guna pengembangan potensi wisata, Pemkab siap menggelontorkan dana bantuan pada tahun ini.
“Bugisan menjadi salah satu desa yang akan kami bantu Rp200 juta untuk mengembangkan potensi wisata,” tutur dia.
(Sumber: HarianJogja.com)

Festival Candi Kembar Dimulai Lagi Tahun Ini

Kampung budaya Plaosan
Setelah sukses  menggelar Festival Candi Kembar (FCK) November 2016, pemerintah desa bugisan, Kecamatan Prambanan Klaten akan menggelar event yang sama 1-3 September 2017.




Kegiatan untuk mengangkat seni budaya dan produk unggulan itu, akan diselenggarakan disebelah timur Candi Plaosan yang dikenal sebagai candi kembar, karena mempunyai dua candi utama yang sama persis. “Festival Candi Kembar 2017 akan diikuti kelompok seni budaya dari Prambanan dan lainnya. Saat ini, slot pentas seni budaya hampir penuh, karena banyak kelompok seni budaya yang akan mengambil bagian, “ kata Kades Bugisan, Heru Nugroho, Rabu (23/8).

Begitu Banyak peminat, sampai ada kelompok yang tak kebagian waktu. Tahun ini, acara pentas seni budaya tidak akan berlangsung selama  empat hari seperti tahun lalu. Kegiatan akan dipadatkan menjadi tiga hari, dengan alokasi waktu untuk full pentas hanya dua hari.

Dalam Waktu dua hari, akan dipentaskan wayang kulit dengan dalang muda, berbagai seni tari tradisional, sendratari, musik tradisional dan masih banyak lagi. Kegiatan itu diperkirakan akan menghabiskan anggaran hingga Rp.235 Juta dari Pemdes dan Pemkab.

“Kami akan menampilkan potensi seni budaya Desa Bugisan, dan dari daerah lain. Direncanakan, Festival akan dibuka PLT Bupati Sri Mulyani dan dimulai dengan kirab budaya Masyarakat Bugisan, ditambah perwakilan desa-desa dikecamatan Prambanan, “ Tegas Heru Nugroho.


Dia menambahkan, Festival diawali dengan kirab budaya dari Candi Sewu menuju Candi Plaosan sore hari. 

'Beksan Merti Bumi', doa untuk kehidupan alam semesta

Kampung budaya Plaosan
Peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia di Klaten digelar di kompleks Candi Plaosan Lor yang terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Senin (5/6) sore.
Pada gelaran itu utamanya disuguhkan tarian yang sarat makna "Beksan Merti Bumi" di pelataran bagian utara Candi Plaosan Lor. Di tumpukan batu bak panggung terbuka itu, sejumlah penari perempuan berbusana dodot Jawa mulai bergerak mengikuti alunan bunyi seruling yang memecah suasana.

Dengan gerakan lambat namun gemulai, para penari yang masing- masing membawa sesaji berupa bibit tumbuhan ini menuntun langkah sepasang penari Loro Blonyo yang berada pada barisan paling belakang. Itulah sekilas suasana pentas tari "Beksan Merti Bumi" yang diekspresikan oleh anak asuh Suprapto Suryodarmo atau dikenal Mbah Prapto dari Padepokan Lemah Putih Karanganyar.
Menurut koreografer Beksan Merti Bumi, Sekar Tri Kusuma (17), gerakan tari nan lambat tersebut diadaptasi ketika manusia sedang berdoa. Sebuah ekspresi permohonan doa kepada Tuhan sang pemilik semesta alam.
"Kita memohon kepada Tuhan untuk semua penghuni semesta. Bukan hanya tumbuhan, ya langit, ya laut, dan semua yang hidup di dunia ini semoga diberkahi Tuhan. Jadi Beksan Merti Bumi ini pertunjukkannya bukan untuk manusia, tapi untuk Tuhan. Jadi kita tidak semata-mata menari, tapi juga berdoa," ujar Sekar yang berasal dari padepokan di Kampung Bonorejo, Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar ini.
Selain tari Beksan Merti Bumi, peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia yang jatuh tiap tanggal 5 Juni ini juga disuguhkan dengan berbagai pentas kesenian tradisional khas Desa Bugisan seperti Pring Sedapur, Gejog Lesung, dan Jathilan setelah salat tarawih. Mereka tampil di atas panggung kecil di sebelah barat Candi Plaosan Lor.
sumber: jateng.merdeka.com

Jatilan dalam Kemeriahan Festival Candi Kembar

Kampung budaya Plaosan
Menuju kampung budaya dan wisata, Dusun Plaosan menggelar festival budaya Candi Kembar (Candi Plaosan). Acara tersebut digelar setiap hari Sabtu dan Minggu, sejak 5/11/2016 sampai 27/11/2016, di Dusun Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Berbagai tarian daerah ditunjukkan di sana. Selain itu, panitia juga mengadakan lomba bagi anak-anak, tingkat PAUD, SD, dan SMP. 
Tanggal 26 November nanti tentu akan lebih meriah lagi, sebab Menteri Kebudayaan dan Pendidikan (Mendikbud), Muhaddzir Efendy, akan turut hadir di acara akbar budaya ini.
“Silahkan datang kembali, tanggal 26 November, acara akan lebih semarak. Sebab Bapak Mendikbud akan hadir pula di Festival Candi Kembar,” kata Panitia dari atas panggung.
Saat kami berkunjung ke sana, Minggu (20/11/2016), tarian yang ditampilkan mulai dari tari Cemong, tarian Adi Arya Penangsang dari lereng Merbabu, dan tarian jatilan cilik dan dewasa. Namun yang paling seru dan mendebarkan adalah hiburan jatilan.
Tarian Arya Penangsang | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Sebelum dimulai acara jatilan, tampak seorang pawang memecut-mecut tanah, sepertinya mengundang makhluk lain untuk acara tersebut. Rapalan doa ia sampaikan ke delapan penjuru mata angin ke arah langit sembari kedua telapak tangannya menyatu di depan dada.
Musik gamelan kembali berdendang, dan sinden dengan suara merdunya mengiringi musik khas Jawa itu. Para pemain jatilan sudah keluar dari balik pentas dengan seragam kaos berkerah lengan panjang merah dengan kombinasi hitam. Para pemain itu tampak pula memakai ikat kepala, layaknya seperti pendekar-pendekar Jawa.
Para pemain dan sekaligus penari jatilan mengiringi musik dengan gerakan yang serempak. Setiap pemain “menunggangi” kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman.
Sang surya sudah tidak begitu garang, sinarnya mulai lembut dari langit barat. Penonton semakin ramai, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, ibu-ibu, dan bapak-bapak, sampai yang sepuh sangat antusias menonton acara jatilan tersebut. Ramai, dan semakin ramai penonton sudah rapat mengerubungi pemain jatilan.
Pemain jatilan yang kesusurupan | Foto asmarainjogja, Asmara Dewo

Sekitar setengah jam tarian terus mengiringi alunan gamelan. Pemain berkumpul di satu titik, dengan masih tetap menunggangi kudannya, tubuh mereka tampak bergetar, lalu tiba-tiba mereka terpelanting terpencar. Ya, para pemain sudah tidak sadarkan diri.
Ada yang kerasukan, namun ada juga yang tidak kerasukan. Pemain yang kerasukan tadi wajahnya sudah berubah total. Matanya melotot tajam dengan wajah merah menyala. Menyeramkan. Namun ada juga matanya tetap terpejam dan terus menari. Bahkan pemain yang sejak awal masih sadar menggenakan kacamata hitam, sampai di akhir acara tetap memakainya. Guna kacamata itu mungkin agar mata pemain saat sudah kesurupan tidak begitu liar dan menakutkan. Sebab mata mereka sangat tajam menyapu penonton, dan juga sering menatap tajam langit.
Dengan rakusnya pemain yang sudah kerasukan tadi memakan sesajen yang sudah disediakan. Mulai dari makan kembang, kemenyan, buah-buahan, dan minum minyak duyung. Buah kelapa muda yang masih utuh dilepas serabutnya dengan menggunakan gigi. Wah.. kuat betul giginya.
Setelah serabut kelapanya terselepas semua. Penonton terkaget-kaget dan teriak histeris, saat kelapa muda yang tinggal tempurung tadi dipecahkan di atas kepalanya. Kemudian dengan rakus memakan degannya. Degan adalah bagian isi kelapa yang masih muda.
Jika ada pemain yang kesurupan dengan suka melawak dengan berbagai tingkah, ada juga yang ganas sekali, seperti mengejar-ngejar penonton. Lalu dikejar oleh para crew, dan membawa pemain tadi ke tengah ke lapangan. Nah, yang ganas ini pula biasanya suka menantang untuk dipecut.
Pecutan dari pawang berkali-kali menggelegar menghantam tangan, dan kaki pemain. Sekuat tenaga cambuk diayunkan lagi memecut pemain, namun selama itu pula pemain jatilan tidak merasakan sakit. Bahkan sisa merah saja tidak terlihat. Inilah uniknya hiburan jatilan yang masih ada dan terus dibudayakana di masyarakat Jawa.
Ketika hari mulai petang, satu persatu pemain sudah disadarkan kembali. Ada yang mudah disadarkan, namun ada pula yang sulit, bahkan tidak mau buru-buru disadarkan. Sangat beragam karakter pemain jatilan tersebut. Setiap pemain ada permintaan sendiri-sendiri untuk menyadarkannya. Ada yang menggunakan kuda-kudaan, ada dari topeng, dan lain-lain.

Proses sadarnya juga cukup lama, pemain tadi yang akan disadarkan dipegang beramai-ramai, lalu dibacakan mantra, oleh pawangnya. Dipengujung mantra, pawang dan para tim menutup mantra dengan suara yang sangat keras dan kompak. Seketika itu pula pemain sudah lemas dan sadarkan diri. Lalu digotong dengan tubuh lunglai tampak keletihan sekali.

Sumber: asmarainjogja.id

Kantor Balai Desa Bugisan Buka Mulai 08.00 WIB Sampai 14.30 WIB